Mengingat kembali perjalanan 2022-2023 yang berat tapi menyenangkan. Jika ditanya apakah program ini baik ? Jujur menurut saya sangat baik. Raca percaya diri saya tumbuh, yakin pada proses saat menjadi guru sehingga saya berusaha menjadi guru yang bisa menuntun bukan menuntut. Memandang teman atau lingkungan sekolah tidak lagi fikus pada masalah dan kekurangan tetapi memunculkan semangat positif bahwa saya dan sekolah bisa maju dan lebih baik jika bersama-sama. Adakah hal yang Bu Wulan rasakan negatif dari program guru penggerak ? saat pendidikan tidak ada. Saat lulus medapat tekanan dari diri sendiri saja untuk lebih baik dalam berkontribusi bagi murid dan sekolah.
Di era modern ini segala informasi mengalir dengan cepat dan bahkan membuat kita kewalahan. Tulisan ini merupakan bentuk celoteh saya yang mungkin akan disetujui atau ditolak oleh guru lainya. Sebelumnya saya ingin meminta maaf jika ada yang kurang suka dengan tulisan ini. Saya yakin semua guru baik dan suka melihat siswanya berjuang dan berprestasi. Pokoknya semua guru akan mendukung.
Dalam dinamika grup wa sekolah ada saja guru yang mimilih mode diam dalam segala aktivitas kecualai kabar duka (masih komentar). Saya memperhatikan dan menyayangkan hal ini. Saya berharap tulisan ini dibaca oleh guru-guru dengan mode diam/silent ini. Sebuah senyum, kata-kata semangat, atau sekadar jempol ke atas di grup WA atau di kelas bukanlah hal yang sulit atau menyusahkan. Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah gerakan kecil, tapi bagi siswa, itu bisa menjadi cahaya kecil yang menerangi jalannya. Janganlah diam saat ada informasi siswa menang atau kalah. Kekuatan sejati seorang guru bukan hanya terletak pada buku pelajaran, tetapi juga pada kemampuannya memberi dukungan dan semangat kepada muridnya. Jangan biarkan kesuksesan siswa menjadi cerita bisu yang tenggelam dalam keheningan kelas.
Sebagai pendidik, tugas kita bukan hanya mengisi kepala mereka dengan pengetahuan, tetapi juga membimbing mereka untuk percaya pada potensi diri sendiri. Menyukai dan menguatkan adalah bentuk dukungan yang paling sederhana namun berarti.
Jadi, mari bersama-sama menciptakan lingkungan belajar yang positif, di mana setiap usaha dihargai, dan setiap prestasi diakui. Jadilah guru yang membangun, yang mampu melihat dan merayakan potensi anak didik, karena dengan begitu, kita mengukir masa depan yang lebih cerah bagi mereka.
Sayapun masih belajar tetapi ini bentuk keprihatinan saya supaya guru ini menyadari betapa hebatnya dukungan kita, dukungan guru.
Koneksi Antarmateri Modul 3.1 Pengambilan Keputusan yang Sesuai Nilai Kebajikan merupakan sebuah usaha merefleksikan kembali aktivitas pendidikan calon guru penggerak angkatan 06 yang selama ini saya jalani. Menjadi guru bagi saya adalah menceritakan masa lalu sebagai bahan refleksi diri, berdiskusi dengan anak-anak mengapa orang dewasa marah dan apa tujuannya, mendengarkan kegelisahan anak-anak dan berusaha memvalidasi tujuannya bercerita lalu secara perlahan menuntun ke arah sesuai tujuan pendidikan. Tujuan Pendidikan sejatinya adalah menjadikan manusia pembelajar sepanjang hayat, mencintai ilmu pengetahuan dan berbudi pekerti yang luhur.
Ki Hajar Dewantara menjadi sosok yang istimewa karena merupakan Menteri Pendidikan pertama. Saya adalah guru yang kurang membaca hal-hal berkaitan dengan sejarah KHD tetapi melalui beberapa pelatihan guru belajar saya merefleksikan bahwa jadi guru memang sulit. Sulit atau penuh tantangan tetapi merupakan takdir baik. Saya bangga dan bahagia menjadi guru. Mengenal filosofi pemikiran KHD dan memantaskan diri menjadi guru sesuai filosofi beliau. Saya ingin murid-murid saya berkembang sesuai kodrat zaman tetapi tetap kakinya kuat dalam karakter yang sesuai dengan nilai kebajikan universal. Murid adalah calon pemimpin masa depan yang harus mampu memimpin dirinya sendiri menuju hal-hal hebat di masa depan.
Pengambilan keputusan yang selama ini saya lakukan tentu saja berdasarkan prinsip-prinsip yang saya yakini benar. Nilai kerja keras menuntun saya untuk selalu melakukan aktivitas paling optimal dari diri saya. Modul pendidikan guru penggerak tentang nilai-nilai guru penggerak khususnya nilai mandiri membuat saya kembali berpikir bahwa selama ini saya masih tergantung pada ‘perintah atasan’ atau ‘rekan sejawat inspiratif’ dalam banyak hal ini tepat, tetapi di tiitik tertentu ini membuat saya tergantung dan belum cakap memimpin diri sendiri. Jika seorang guru ragu dengan hal baik yang dilakukannya di kelas maka apakah mungkin perubahan kecil akan ada? Memimpin diri sendiri ke arah murid, sekecil apapun adalah kebaikkan, jangan ragu untuk melakukannya. Misalnya saya yakin bahwa semua murid harus mampu dan yakin memimpin diri sendiri maka di kelas-kelas saya buat setiap murid merasa berharga dan berkesempatan tampil/maju. Bagi murid yang masih ragu dan malu saya mengatakan bahwa butuh proses memang tetapi di kesempatan berikutnya pasti bisa. “Memaksa” sebisa mungkin saya hindari. Apa yang terbaik menurut kacamata saya, jangan-jangan trauma bagi siswa. Menghargai perbedaan dan saling berempati adalah kunci iklim pembelajaran positif di kelas.
Sedikit menyoal kehidupan sosial sabagai warga sekolah sebagai manusia saya menyadari sesuatu yang mulanya tidak saya perhatikan betul yaitu tentang fenomena guru senior dan junior di semua sekolah adalah warna sekolah yang indah. Ketika saya merasa beruntung karena bertemu guru-guru senior yang secara implisit memberikan saya bimbingan. Segala rasa ragu, berubah menjadi upaya bekerja keras. Mereka (guru senior) dengan prinsip mengembangkan diri saya sering mengajak saya berdialog tentang murid, pendidikan masa lalu, masa depan dan harapannya. Hal ini membantu saya untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, semangat mengembangkan diri. Kesibukan dalam pendidikan guru penggerak kadang tentu saja membuat pikiran saya kacau dan emosi tidak baik. Emosi negatif yang belum tersalurkan dengan baik sangat berbahaya. Pendidikan sosial emosional menjawab tantangan ini, teknik jeda atau STOP adalah bekal baik yang dapat saya aplikasikan langsung pada diri saya ketika menyadari bahwa kondisi perasaan saya sedang tidak baik. Mengambil nafas panjang, memejamkan mata dan mengapresiasi kepada diri sendiri selama ini telah bertahan dengan baik. Setelah jeda atau STOP biasanya pikiran saya mulai pulih. Kepada siswa hal ini juga saya praktikkan, ketika siswa terlihat mulai berperilaku negatif biasanya akan saya jeda dulu kegiatan pembelajaran. Berhenti dulu untuk memulai kembali itu baik.
Modul 3.1 melalui studi kasus di dalam LMS membuat saya menyadari betapa selama ini bujukan moral itu ada dan berdoa kekuatan diri melawan hal ini. Sederhananya adalah datang ke kelas tepat waktu dan mendampingi siswa belajar dengan sepenuh hati. Dilema etika dalam kehidupan sosial sebagai guru sangat berpengaruh. Kondisi kurang nyaman terjadi ketika dua kubu yang sebetulnya sama-sama benar sulit berkomunikasi dengan efektif sehingga terjadilah konflik. Nilai-nilai kebajikan universal yang seharusnya hadir dalam kasus dilema etika. Kejujuran mengakui kekeliruan, keluasan hati untuk saling menerima pendapat dengan musyawarah mufakat. Di lingkup kelas tentu saja banyak dilema etika yang terjadi; misal pembagian kelompok secara acak oleh guru itu tepat tetapi murid kehilangan usaha untuk membersamai teman-teman satu kelas adalah keluarga. Pembagian kelompok secara acak tersebut kadang membuat murid cenderung tergantung pada guru atau kurang mandiri. Pembagian murid sesuai sahabat terdekat juga menimbulkan masalah dalam satu kelas ada saja anak yang dikucilkan dengan berbagai alasan. Hal ini ada dan butuh usaha nyata dari guru untuk lebih peduli dan menyatukan para murid. Sekecil apapun proses memerdekakan murid adalah hal besar bagi murid. Misalnya ketika menyadari bahwa murid telah memiliki kodrat alam dan zamannya maka usaha guru adalah ‘menemani’ tumbuh kembang murid lewat mata pelajaran. Murid secara kontekstual diberi pengalaman belajar agar semakin tahu manfaat pendidikan dan pengajaran yang dilakukannya. Memfasilitasi murid dengan diferensiasi proses pembelajaran demi menyesuaikan gaya belajar siswa (visual, audiotori, kinestetik). Diferensiasi produk pembelajaran mulai saya lakukan bersama murid bahwa teks dapat diubah menjadi video, audio atau infografik sesuai kriteria penilaian tetapi sesuai pula dengan hal yang murid sukai atau kuasai. Murid seumur hidupnya akan mengingat bagaimana guru memperlakukannya. Materi pembelajaran akan berlalu jika tidak sesuai dengan kebutuhan kehidupan murid di masa depan. Akan menjadi guru yang bagaimana saya dan Anda dikenang kelas ? pilihannya ada pada bagaimana cara kita semua berpihak pada murid.
Dampak utama mempelajari konsep ini adalah saya lebih percaya diri dalam pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Sebelumnya saya tidak punya referensi yang jelas dan hanya mengandalkan intuisi. Saat ini saya akan menunjang setiap keputusan sesuai langkah-langkah dalam modul 3.1 ini. Pengalaman mewawancari dua kepala sekolah dalam pengambilan keputusan membuat saya sadar bahwa menjadi pemimpin memang tugas berat yang perlu kolaborasi dan komunikasi efektif semua pihak. Berikut adalah link kegiatan wawancara https://youtu.be/z1es8zx6_jg
Modul 3.1 melengkapi calon guru penggerak dengan cara jika menghadapi konflik. Modul ini sangat penting diketahui semua guru karena semua guru pada hakikatnya adalah pemimpin pembelajaran yang kadang bertemu dilema bujukan moral dan etika. Semuanya berpusat pada nilai kebajikan universal misalnya tanggung jawab, toleransi, keberanian, kejujuran, dll.
Ada 4 kategori dilema etika, yaitu:
Individu lawan masyarakat (individual vs community)
Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Terdapat 3 prinsip dilema etika, yaitu:
Saya lakukan karena itu yang terbaik untuk kebanyakan orang (Berpikir Berbasis Hasil AKhir/End-Based Thinking).
Ikuti prinsip atau aturan-aturan yang telah ditetapkan (Berpikir Berbasis Peraturan/Rule-Based Thinking)
Memutuskan sesuatu dengan pemikiran apa yang anda harapkan orang lain lakukan terhadap anda (Berpikir Berbasis rasa peduli/Care-Based Thinking)
Dalam mengambil keputusan pada situasi dilema etika atau bujukan moral, maka dapat melakukan 9 langkah berikut.
Mengenali nilai-nilai yang bertentangan
Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut
Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut
Pengujian benar atau salah dengan uji legal, uji regulasi, uji intuisi/perasaan, uji publikasi, dan uji panutan.
Investigasi opsi trilema (pilihan keputusan yang lain)
Buat keputusan
Lihat lagi keputusan dan refleksikan
Pengetahuan tersebut semoga bisa dijadikan acuan saat guru menghadapi dilema etika di kelas dan lingkungan sekolah. Sekolah adalah institusi moral yang perlu terus menjadikan setiap murid mendapatkan pengalaman berharga dan berbahagia dalam belajar dan bertumbuh menuju nilai-nilai kebajikan. Bagaimana menurut Anda? Silakan komentari tulisan ini, dengan umpan balik dari Bapak/Ibu guru hebat, saya ingin terus belajar tergerak, bergerak, dan menggerakan.
Ditulis oleh Wulan Widari Endah, S.Pd (Guru SMPN 3 Cilegon)
Bel pulang
berbunyi, semua anak bersorak, begitupula aku. Aku seorang guru, dengan
malu-malu aku akui, aku juga senang bila jam mengajar telah usai. Setelah
memencet alat presensi, aku segera meluncur ke tempat parkir. Tiba-tiba seorang
siswa perempuan menarik lenganku. Bola matanya merah basah.
“Ibu, Asna mau
curhat”
Ku tarik nafas
sejenak, terbayang anakku yang masih balita menungguku untuk menyusu. Namun,
aku tak tega menghancurkan perasaannya, pengharapannya.
“Iya, ada apa
Nak?”
Kami duduk di
bawah tangga, dekat motorku diparkir. Setelah kondisi sekolah lengang ia mulai
bicara.
“Asna, nggak
bisa lanjut sekolah bu ”
Dahiku
mengerenyit, tak mengeti maksud celotehnya.
“Kenapa?” “Ada apa Nak?” lalu dengan tangis yang
membuncah dia memelukku
“Ibu tadi Asna
dipanggil Pak Fauzan bagian TU, ini sudah ketiga kalinya, Bu, Asna nggak punya
uang untuk bayar buku dan tunggakan
lainnya bu!”
Air mataku
langsung lumer, aku memelukknya dengan segenap jiwaku. Tuhan, mimpikah ini, aku
baru mengajar selama dua minggu setelah satu tahun menganggur. Berarti anak ini
baru bertemu aku empat kali dan dia menceritakan rahasianya padaku. Lalu muncul
banyak tanya dalam benakku, kenapa anak ini bisa sekolah sampai kelas sembilan
di sekolah ini, kenapa masih ada anak yang tidak bisa sekolah dengan damai,
kenapa anak yang sungguh-sungguh ingin sekolah harus menghadapi persoalan yang
berat begini, bagaimana sikapku padanya, bagaimana aku bisa membantunya:
nyatanya aku hanya guru honor baru yang tak berdaya soal ini. Aku takut
mengecewakannya. Aku takut anak ini berharap aku jadi pahlawan baginya.
Pikirannku sibuk berlari. Namun, sebelum sempat aku berkata apa pun Asna
mengatur nafas menenangkan dirinya dan berkata
“Bu, Asna cuma
pengen cerita aja ke ibu, ibu jangan cerita ke siapa-siapa, sekarang hati Asna
sudah agak lega, Asna pasrah bu”
“Ibu akan coba
cari jalan keluar tapi kamu janji harus terus sekolah ya”
“Iya, makasih
bu”
Kami berpisah
setelah puas saling menghibur. Kata-kata pengihibur dan penyemangat untuknya
memang tidak akan bisa menyelesaikan persoalannya. Aku tak berdaya, hanya itu
yang dapat aku lakukan, semalam suntuk aku ingat mata Asna yang basah, padahal
sebelumnnya anak ini sungguh tak ku perhatikan benar.
Aku hanya
pernah memuji cerpennya di kelas. Bercerita tentang sebuah keluarga yang
menderita karena ayahnya harus dipenjara gara-gara kesalahan yang tidak
dilakukannya, difitnah rekan sejawatnya yang tidak suka padanya yang jujur dan
disayangi bosnya, akhirnya aku tahu cerpen ini adalah nyata.
Curhat-curhat
Asna berikutnya semakin membuatku tenggelam dalam persoalan ini. Kakaknya yang
pertama laki-laki bahkan buta huruf, kakaknya yang kedua perempuan juga buta huruf. Asna lebih beruntung karena
ada tetangganya yang baik. Mengajari Asna menulis huruf latin dan arab. Bahkan
yang mendukung Asna untuk masuk dan mengusahakan bisa sekolah di sini. Adik
Asna dua orang. Asna bekerja sebagai
pembantu di rumah tetangganya itu setelah pulang sekolah. Kemana tetanggnya
baiknya pergi? Kenapa harus pindah?
Aku terus
berpikir bagaimana caranya aku menolong anak ini. Keesokan harinya, secara
hati-hati dan penuh rasa takut ketanyakan tentang Asna ke Pak Rahman
pimpinanku.
Mulanya ia
kaget, “Ibu tahu dari siapa?”
“Saya tahu
dari karangan yang dibuat anak ini Pak” kataku.
“Bu, dengan
sangat menyesal saya katakan, kami sudah bantu banyak sekali tapi bantuan kami
tidak bisa lebih dari ini”
“Tapi kasian
dia pak, selama ini dia berjuang, sampai jadi pembantu demi bisa sekolah”
Pak Rahman tampak merenung “Baik bu, nanti
saya bicarakan lagi dengan Yayasan”
Kepalaku
pusing. Tubuhku lemas. Jam pelajaran terakhir aku mengajar di kelas Asna. Ku
perhatikan dia tampak layu, tapi berusaha tersenyum dan seolah dia baik-baik
saja. Di sela-sela memeriksa tugas, ku tulis sebuah surat untuk Asna.
Dari Ibu untuk Asna
Assalamualaikum Wr.Wb
Asna, sedih hanya sedih yang dapat ibu ungkapkan. Larut
dalam kesedihan untuk sementara tidak apa-apa, marah dan kecewa juga wajar.
Namun, sebagai seorang manusia kita punya Tuhan, dia telah mengatur segalanya
untuk kita. Kalau Asna percaya segalanya akan indah pada waktunya, bersabarlah,
berdoa dan terus berusaha. Ibarat besi, Asna sedang ditempa agar jadi keris
yang indah. Jangan bosan membaca buku untuk menambah wawasan, membaca tiap
peristiwa dengan sikap positif. Pastikan dan kunci sejarah ini jangan sampai
terulang pada adik atau bahkan anak Asna kelak. Doa akan selalu teriring dari
ibu, untukmu Asna, remaja hebat dan kuat : Semoga Allah selalu menjaga hati
Asna agar tetap kuat.
Wa’alaikum salam.
Salam sayang dari ibu
Setelah bel pulang berbunyi
surat itu kuberikan padanya. Semenjak saat itu, aku selalu murung di sekolah.
Aku iri pada ketegaran Asna.
***
Semester II Asna tak datang lagi ke sekolah. Aku panik
dan mencarinya. Dari teman sebangkunya aku mendapat salam dari Asna. Keluarga
Asna pindah ke Pandeglang. Ketika aku tanya alamat lengkapnya, temannya tak
tahu.
Enam tahun setelah itu, hatiku tetap saja sedih jika
mengingat nama Asna. Tiba-tiba Tuhan menjatuhkan salju di hatiku. Salju pertama
yang layak ditunggu.
Bip...Bip...ponselku berbunyi.
Aku cuek dengan itu karena sedang sibuk mengajar pemantapan ujian tetapi karena
terus saja berbunyi, aku menyerah dan sejenak keluar kelas untuk menerima
panggilan telepon yang nomornya tak ku kenali.
“Assalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam” kataku
“Alhamdulilah akhirnya
diangkat”
“Maaf ini siapa?”
“Ibu ini Asna! Ibu nggak lupa
kan?”
Jantungku berdetak dengan
cepat, sangat cepat.
“Iya”
“Ini betul Bu Indri kan?”
“Iya” aku jawab sambil sibuk
menebak
“Ini Asna bu, murid ibu”
suaranya riang di ujung telepon.
“Iya” kataku sambil terisak
Kami ngobrol lama sekali. Katanya, ia mulanya jadi pelayan toko,
kini sudah punya toko sendiri. Punya sedikit rezeki, aku dikiriminya uang dua
juta rupiah dan akan ia lakukan per empat bulan sekali.
“Bu, tolong cari anak-anak yang miskin, biayai dengan
uang Asna”
***
Pengarang : Wulan Widari Endah
Tertarik memesan buku antologi ini, silakan DM melalui IG wulan_widari_endah
Penerapan Model Pembelajaran Discovery Inquiri Learning dan Flipped Classroom dalam Pembelajaran B.Indonesia Materi Teks Deskripsi dengan Memanfaatkan Peta Budaya Rumah Belajar dan Platforms Merdeka Mengajar Kearifan Lokal Baduy
Pendidikan nasional menurut UUD SISDIKNAS No.20 Tahun 2003 Pasal 1 adalah "Pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama,
kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman." Sebagai seorang guru, penulis berusaha menjalankan amanat dalam undang-undang tersebut. Pembelajaran yang inovatif tanggap terhadap perubahan zaman yang berlandaskan kebudayaan. Penulis menggunakan TIK untuk menarik antusias siswa yang sudah sangat terbiasa menggunakan gawai/smartphone. Hal ini juga sesuai dengan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan itu menuntun siswa sesuai kodrat alam dan zaman (Dewantara, 1936 dalam Kemdikbudristek, Modul Filosofi KHD Dasar-Dasar Pendidikan.)
Pendidikan harus menuntun siswa menggunakan TIK tanpa lupa siapa dirinya. Sebagai guru, penulis berusaha memfasilitasi siswa bersentuhan dengan kebudayaan lokal agar mereka tidak lupa akar. Penulis berharap TIK menjadi pelestari budaya lokal dengan kagiatan yang menggembirakan. Berangkat dari motivasi tersebut penulis memiliki praktik baik di kelas yaitu "Penerapan Model Pembelajaran Discovery Inquiri Learning dan Flipped Classroom dalam Pembelajaran B.Indonesia Materi Teks Deskripsi dengan Memanfaatkan Peta Budaya Rumah Belajar dan Platforms Merdeka Mengajar Mengangkat Kearifan Lokal Baduy"
Berikut adalah video praktik baik yang penulis lakukan di SMPN 3 Cilegon dan kegiatan berbagi ke guru-guru lain:
Pandemi covid -19 membawa hikmah luar biasa bagi penulis. Kegiatan pengembangan diri yang awalnya mengisi kebosanan karena mengajar daring. Hal ini membuat penulis rajin mengikuti berbagai pelatihan atau webinar. Salah satu kegiatan pengembangan diri melalui https://simpatik.belajar.kemdikbud.go.id/ kegiatan ini sangat bermanfaat bagi penulis misalnya ketika penulis membaca modul "Panduan Belajar dari Rumah dengan Memanfaatkan Rumah Belajar" penulis tertarik mempraktikkan Model Flipped Classroom yaitu sebuah model pembelajaran yang unik karena materi pembelajaran dikirimkan lebih awal sehingga saat bertemu guru, siswa telah belajar mandiri dan siap belajar. Sampai hari ini penulis terus membiasakan hal baik tersebut. Lebih lengap tentang model pembelajaran ini penulis telah memaparkan melalui https://wulanwidar.blogspot.com/2020/09/alternatif-model-pembelajaran-selama-bdr.html
Tahun ini pembelajaran sudah mulai kembali normal dan bersama penugasan pelatihan PembaTIK di level 2 penulis tertarik mempraktikkan model pembelajaran inovatif lainnya yaitu model discovery-inquiry sebuah model pembelajaran yang mengaktifkan siswa karena siswa harus melakukan eksplorasi berbagai informasi agar dapat menentukan konsep mentalnya sendiri dengan mengikuti petunjuk pendidik (Kemdikbud: 2021 hlm-9). Alur kegiatan sesuai model ini adalah:
Stimulasi (Siswa mengakses link sumber belajar sesuai tujuan pembelajaran : dalam praktiknya penulis mengunduh modul pembelajaran dari platforms merdeka mengajar dan membagikan kepada siswa melalui grup WhatsApp. Ketika di kelas guru hanya memberi penguatan.
Identifikasi masalah (Siswa dibagi dalam kelompok dan harus menyelesaikan masalah sesuai LKPD) masalah yang harus dicermati siswa adalah menyimpulkan apakah teks peta budaya rumah belajar tersebut adalah teks deskripsi atau bukan berdasarkan struktur teks deskripsi https://petabudaya.belajar.kemdikbud.go.id/Repositorys/suku_baduy/
Pengumpulan data (secara kelompok siswa saling berkolaborasi mengumpulkan data dari berbagai sumber, kemudian mendiskusikan dalam kelompok )
Pengolahan Data (siswa secara kelompok berkolaborasi melakukan pengolahan data yang telah dikumpulkan kemudian merumuskan hasil diskusi )
Verifikasi (siswa mempresentasikan hasil pengolahan data ke kelompok lain dan guru)
Generaliasi (siswa secara kelompok membuat kesimpulan atau generalisasi berdasarkan hasil verifikasi dan masukan dari pendidik dan siswa lainnya)
Tahap Persiapan
Setelah membaca modul "Panduan Belajar dari Rumah dengan Memanfaatkan Rumah Belajar," penulis menyusun rencana pembelajaran yang sesuai. Penulis juga mengunduh berbagai sumber belajar digital misalnya melalui platformas merdeka mengajar. Hal ini dilakukan agar siswa dapat mengakses beberapa hari sebelum kegiatan belajar tatap muka dilakukan. Persiapan lainnya adalah pembuatan powerpoint dan LKPD yang harus sesuai dengan rencana pembelajaran.
(Modul yang diunduh dari platfoms merdeka mengajar (Penulis : Katrina Nawan Hatiningsih)
Tahap Pelaksanaan
Beberapa hari sebelum pelaksanaan kegiatan pembelajaran guru mengirimkan materi dan petunjuk pembelajaran melalui grup WhatsApp. Pelaksanaan di kelas sesuai alur yang telah penulis tulis di atas (alur model pembelajaran DIL). Pembelajaran dilakukan di kelas VII-G. Kompetensi dasar yang diajarkan adalah KD 3.2 Menelaah struktur dan kebahasaan dari teks deskripsi tentang objek. Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai adalah :
1. Siswa mampu menentukan struktur teks deskripsi dengan tepat
2. Siswa mampu memperinci bagian-bagian teks deskripsi dengan tepat
3. Menelaah struktur teks deskripsi yang sesuai dengan cermat
Alur pembelajaran yang dilakukan oleh siswa ada enam bagian yaitu : stimulus, identifikasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data, validasi data, dan generalisasi.(penjelasan rinci di bagian atas). Sebelum kegiatan dimulai guru melakukan salam, sapa, apersepsi dan motivasi dengan kegiatan senam ayam. Suasana kelas menjadi gembira dan siswa bersemangat melakukan kegiatan belajar. Mengutip sekali lagi pemikiran Ki Hajar Dewantara “Maksud
pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada
anak-anak,agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya
baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat (Dewantara, 1936 dalam Kemdikbudristek, Modul Filosofi KHD Dasar-Dasar Pendidikan.) ”
Tahap Pasca Pelaksanaan
Penulis melakukan refleksi kegiatan pembelajaran yang sudah dilakukan melalui umpan balik peserta didik dan memeriksa kembali LKPD yang telah dipersentasikan siswa di kelas. Dari hasil refleksi penulis dapat menyimpulkan bahwa model pembelajaran flipped classroom sangat baik karena membuat siswa siap belajar. Bagi siswa yang kemandirian belajarnya masih kurang memang agak kesulitan. Model pembelajaran dicovery inquiry learning mengaktifkan siswa secara kolaboratif. Guru bertindak sebagai pemantau selama diskusi berlangsung. Pada pembelajaran berikutnya budaya lokal Baduy menjadi sumber inspirasi bagi siswa menulis teks deskripsi.
LKPD kelompok
Semangat guru mengajar menggunakan TIK dan menjadikan TIK pelestari budaya lokal terus dilanjutkan di kegiatan belajar berikutnya. Misalnya masih tentang teks deskripsi namun siswa mendeskripsikan objek atau budaya lokal melalui sebuah video.
Kegiatan lanjutan dari praktik baik pembelajaran digital yang saya lakukan bersama siswa. Berikut adalah salah satu penugasan dari siswa saya bernama M.Rezky Arraqqat :
Berbagi dan Berkolaborasi Menumbukan Ekosistem Belajar Digital Menuju Merdeka Belajar
Kegiatan di level 4 sungguh membuat penulis tertantang. Penulis belum terbiasa bicara di forum resmi bahkan menjadi narasumber kegiatan sekolah penulis sendiri, komunitas MGMP, bahkan sekolah lainnya. Penulis percaya meskipun terbatas, kebaikan akan mendatangkan kebaikan lain. Kegiatan berbagi dan berkolaborasi penulis lakukan di empat tempat dengan nama Saba. Saba menurut KBBI daring berarti berpergian ke luar rumah. Saba dalam bahasa Sunda bermaka sama dengan KBBI dan secara mendalam menambah sodara atau jalinan kekeluargaan.
Saba 1 s.d 4 sudah penulis ceritakan dalam blog ini dengan label PEMBATIK LEVEL 4. Semoga semakin banyak tempat baru dan ilmu baru yang penulis miliki. Bertemu guru-guru hebat di sekolah baru, lingkungan baru menyadarkan penulis betapa bermanfaat kegiatan penugasan PembaTIK Level 4 ini. Bahagia dan bersyukur menjadi salah satu guru yang menumbuhkan eksosistem belajar digital menuju merdeka mengajar. Sesuai dengan jargon rumah belajar "Belajar dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja."
(Kegiatan Saba 1 di MGMP B.Indonesia)
(Kegiatan Saba 2 di SMPN 3 Cilegon)
(Kegiatan Saba 3 di SDN Bujanggadung)
(Kegiatan Saba 4 di SDN 1 Cimarga Lebak)
(Daftar hadir kegiatan Saba 1 s.d 4)
#PembaTIK
#PembaTIK2022
#MerdekaBelajar
#PusdatinKemdikbudristek
Referensi:
Dewantara, Ki Hajar. Dasar-Dasar Pendidikan, Modul 1.1 Calon Guru Penggerak, Kemdikbud Dasar-Dasar Pendidikan hlm 1-3 diakses bulan Oktober 2022