TUHAN
MENJATUHKAN SALJU DI HATIKU
Bel pulang
berbunyi, semua anak bersorak, begitupula aku. Aku seorang guru, dengan
malu-malu aku akui, aku juga senang bila jam mengajar telah usai. Setelah
memencet alat presensi, aku segera meluncur ke tempat parkir. Tiba-tiba seorang
siswa perempuan menarik lenganku. Bola matanya merah basah.
“Ibu, Asna mau
curhat”
Ku tarik nafas
sejenak, terbayang anakku yang masih balita menungguku untuk menyusu. Namun,
aku tak tega menghancurkan perasaannya, pengharapannya.
“Iya, ada apa
Nak?”
Kami duduk di
bawah tangga, dekat motorku diparkir. Setelah kondisi sekolah lengang ia mulai
bicara.
“Asna, nggak
bisa lanjut sekolah bu ”
Dahiku
mengerenyit, tak mengeti maksud celotehnya.
“Kenapa?” “Ada apa Nak?” lalu dengan tangis yang
membuncah dia memelukku
“Ibu tadi Asna
dipanggil Pak Fauzan bagian TU, ini sudah ketiga kalinya, Bu, Asna nggak punya
uang untuk bayar buku dan tunggakan
lainnya bu!”
Air mataku
langsung lumer, aku memelukknya dengan segenap jiwaku. Tuhan, mimpikah ini, aku
baru mengajar selama dua minggu setelah satu tahun menganggur. Berarti anak ini
baru bertemu aku empat kali dan dia menceritakan rahasianya padaku. Lalu muncul
banyak tanya dalam benakku, kenapa anak ini bisa sekolah sampai kelas sembilan
di sekolah ini, kenapa masih ada anak yang tidak bisa sekolah dengan damai,
kenapa anak yang sungguh-sungguh ingin sekolah harus menghadapi persoalan yang
berat begini, bagaimana sikapku padanya, bagaimana aku bisa membantunya:
nyatanya aku hanya guru honor baru yang tak berdaya soal ini. Aku takut
mengecewakannya. Aku takut anak ini berharap aku jadi pahlawan baginya.
Pikirannku sibuk berlari. Namun, sebelum sempat aku berkata apa pun Asna
mengatur nafas menenangkan dirinya dan berkata
“Bu, Asna cuma
pengen cerita aja ke ibu, ibu jangan cerita ke siapa-siapa, sekarang hati Asna
sudah agak lega, Asna pasrah bu”
“Ibu akan coba
cari jalan keluar tapi kamu janji harus terus sekolah ya”
“Iya, makasih
bu”
Kami berpisah
setelah puas saling menghibur. Kata-kata pengihibur dan penyemangat untuknya
memang tidak akan bisa menyelesaikan persoalannya. Aku tak berdaya, hanya itu
yang dapat aku lakukan, semalam suntuk aku ingat mata Asna yang basah, padahal
sebelumnnya anak ini sungguh tak ku perhatikan benar.
Aku hanya
pernah memuji cerpennya di kelas. Bercerita tentang sebuah keluarga yang
menderita karena ayahnya harus dipenjara gara-gara kesalahan yang tidak
dilakukannya, difitnah rekan sejawatnya yang tidak suka padanya yang jujur dan
disayangi bosnya, akhirnya aku tahu cerpen ini adalah nyata.
Curhat-curhat
Asna berikutnya semakin membuatku tenggelam dalam persoalan ini. Kakaknya yang
pertama laki-laki bahkan buta huruf, kakaknya yang kedua perempuan juga buta huruf. Asna lebih beruntung karena
ada tetangganya yang baik. Mengajari Asna menulis huruf latin dan arab. Bahkan
yang mendukung Asna untuk masuk dan mengusahakan bisa sekolah di sini. Adik
Asna dua orang. Asna bekerja sebagai
pembantu di rumah tetangganya itu setelah pulang sekolah. Kemana tetanggnya
baiknya pergi? Kenapa harus pindah?
Aku terus
berpikir bagaimana caranya aku menolong anak ini. Keesokan harinya, secara
hati-hati dan penuh rasa takut ketanyakan tentang Asna ke Pak Rahman
pimpinanku.
Mulanya ia
kaget, “Ibu tahu dari siapa?”
“Saya tahu
dari karangan yang dibuat anak ini Pak” kataku.
“Bu, dengan
sangat menyesal saya katakan, kami sudah bantu banyak sekali tapi bantuan kami
tidak bisa lebih dari ini”
“Tapi kasian
dia pak, selama ini dia berjuang, sampai jadi pembantu demi bisa sekolah”
Pak Rahman tampak merenung “Baik bu, nanti
saya bicarakan lagi dengan Yayasan”
Kepalaku
pusing. Tubuhku lemas. Jam pelajaran terakhir aku mengajar di kelas Asna. Ku
perhatikan dia tampak layu, tapi berusaha tersenyum dan seolah dia baik-baik
saja. Di sela-sela memeriksa tugas, ku tulis sebuah surat untuk Asna.
Dari Ibu untuk Asna
Assalamualaikum Wr.Wb
Asna, sedih hanya sedih yang dapat ibu ungkapkan. Larut
dalam kesedihan untuk sementara tidak apa-apa, marah dan kecewa juga wajar.
Namun, sebagai seorang manusia kita punya Tuhan, dia telah mengatur segalanya
untuk kita. Kalau Asna percaya segalanya akan indah pada waktunya, bersabarlah,
berdoa dan terus berusaha. Ibarat besi, Asna sedang ditempa agar jadi keris
yang indah. Jangan bosan membaca buku untuk menambah wawasan, membaca tiap
peristiwa dengan sikap positif. Pastikan dan kunci sejarah ini jangan sampai
terulang pada adik atau bahkan anak Asna kelak. Doa akan selalu teriring dari
ibu, untukmu Asna, remaja hebat dan kuat : Semoga Allah selalu menjaga hati
Asna agar tetap kuat.
Wa’alaikum salam.
Salam sayang dari ibu
Setelah bel pulang berbunyi
surat itu kuberikan padanya. Semenjak saat itu, aku selalu murung di sekolah.
Aku iri pada ketegaran Asna.
***
Semester II Asna tak datang lagi ke sekolah. Aku panik
dan mencarinya. Dari teman sebangkunya aku mendapat salam dari Asna. Keluarga
Asna pindah ke Pandeglang. Ketika aku tanya alamat lengkapnya, temannya tak
tahu.
Enam tahun setelah itu, hatiku tetap saja sedih jika
mengingat nama Asna. Tiba-tiba Tuhan menjatuhkan salju di hatiku. Salju pertama
yang layak ditunggu.
Bip...Bip...ponselku berbunyi.
Aku cuek dengan itu karena sedang sibuk mengajar pemantapan ujian tetapi karena
terus saja berbunyi, aku menyerah dan sejenak keluar kelas untuk menerima
panggilan telepon yang nomornya tak ku kenali.
“Assalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam” kataku
“Alhamdulilah akhirnya
diangkat”
“Maaf ini siapa?”
“Ibu ini Asna! Ibu nggak lupa
kan?”
Jantungku berdetak dengan
cepat, sangat cepat.
“Iya”
“Ini betul Bu Indri kan?”
“Iya” aku jawab sambil sibuk
menebak
“Ini Asna bu, murid ibu”
suaranya riang di ujung telepon.
“Iya” kataku sambil terisak
Kami ngobrol lama sekali. Katanya, ia mulanya jadi pelayan toko,
kini sudah punya toko sendiri. Punya sedikit rezeki, aku dikiriminya uang dua
juta rupiah dan akan ia lakukan per empat bulan sekali.
“Bu, tolong cari anak-anak yang miskin, biayai dengan
uang Asna”
***
Pengarang : Wulan Widari Endah
Tertarik memesan buku antologi ini, silakan DM melalui IG wulan_widari_endah









.png)







