Meja Belakang
Saat itu
telah senja. Para OB menyeret kain biru dan memasukkanya dalam kantong super
besar.
Klik, pintu
pun terkunci.
“Hai
baju-baju kita mau di bawa kemana?” ucapnya dengan nada panik.
“Entahlah,
aku juga kedingianan!”
“Mereka
semua kenapa sih? Semua tubuh kita di lap?”
“Entahlah
yang jelas wajah mereka sepertinya sedih”
“Coba lihat
di tempatmu, biasanya menumpuk buku-buku anak-anak yang lucu. Biasanya kau
sulit bernafas”
”Iya
sekarang lega, tapi kok aku enggak suka yah. Terlalu lega.”
Coa lihat
tempatku laci mungil berwarna ping telah beberapa hari yanglalu raib, lalu satu
per satu juga pergi.
Kita tunggu
besok
###
“Kalian
dimana?”
“Aku di
depanmu”
“Mereka
salah makan apa yah?”
“terakhir
mereka masih asik makan telur dadar dari warteg Pak De”
“Iya mereka
seperti biasa ramai dan imut”
“Coba lihat
mereka sudah duduk di tempat lainnya, itu di depan di pojok depan”
“Iya tapi
kok si cantik tidak ada sih”
“Mungkin ke
sisi kiri”
“Semuanya
berubah. Sekarang aku ditempati oleh bapak-bapak tukang tidur” ucap meja
setengah pasrah.
###
Hari
bergulir dengan cepat. Si Cantik kian sibuk di kantor barunya. Si Cantik tidak
tahu jika meja-meja di kantor sebelumnya merindukannnya. Si cantik hanya tahu, dia tak lagi punya meja di
sana. Lalu diam-diam si cantik marah dan jengkel jika kebetulan harus datang ke
kantor itu lagi. Lalu bagaimana dengan yang lain? Yang lain juga berusaha
berperan menjadi seolah baik-baik saja. Namun, jauh di hati mereka yang
terdalam mereka juga rindu berkumpul dan tertawa cekikikan di belakang hingga
meja-meja lain iri dan ikut juga ke belakang. Tidak hanya meja yang kehilangan
cerita-cerita, diam-diam kami pun kehilangan diri kami.
No comments:
Post a Comment