Koneksi Antarmateri Modul 3.1 Pengambilan Keputusan yang Sesuai Nilai Kebajikan

Koneksi Antarmateri Modul 3.1 Pengambilan Keputusan yang Sesuai Nilai Kebajikan merupakan sebuah usaha merefleksikan kembali aktivitas pendidikan calon guru penggerak angkatan 06 yang selama ini saya jalani. Menjadi guru bagi saya adalah menceritakan masa lalu sebagai bahan refleksi diri, berdiskusi dengan anak-anak mengapa orang dewasa marah dan apa tujuannya, mendengarkan kegelisahan anak-anak dan berusaha memvalidasi tujuannya bercerita lalu secara perlahan menuntun ke  arah sesuai tujuan pendidikan. Tujuan Pendidikan sejatinya adalah menjadikan manusia pembelajar sepanjang hayat, mencintai ilmu pengetahuan dan berbudi pekerti yang luhur.

Ki Hajar Dewantara menjadi sosok yang istimewa karena merupakan Menteri Pendidikan pertama. Saya adalah guru yang kurang membaca hal-hal berkaitan dengan sejarah KHD tetapi melalui beberapa pelatihan guru belajar saya merefleksikan bahwa jadi guru memang sulit. Sulit atau penuh tantangan tetapi merupakan takdir baik. Saya bangga dan bahagia menjadi guru. Mengenal filosofi pemikiran KHD dan memantaskan diri menjadi guru sesuai filosofi beliau.  Saya ingin murid-murid saya berkembang sesuai kodrat zaman tetapi tetap kakinya kuat dalam karakter yang sesuai dengan nilai kebajikan universal. Murid adalah calon pemimpin masa depan yang harus mampu memimpin dirinya sendiri menuju hal-hal hebat di masa depan. 

Link YouTube https://youtu.be/zLv7HTYW1Og


Pengambilan keputusan yang selama ini saya lakukan tentu saja berdasarkan prinsip-prinsip yang saya yakini benar. Nilai kerja keras menuntun saya untuk selalu melakukan aktivitas paling optimal dari diri saya. Modul pendidikan guru penggerak tentang nilai-nilai guru penggerak khususnya nilai mandiri membuat saya kembali berpikir bahwa selama ini saya masih tergantung pada ‘perintah atasan’ atau ‘rekan sejawat inspiratif’ dalam banyak hal ini tepat, tetapi di tiitik tertentu ini membuat saya tergantung dan belum cakap memimpin diri sendiri. Jika seorang guru ragu dengan hal baik yang dilakukannya di kelas maka apakah mungkin perubahan kecil akan ada? Memimpin diri sendiri ke arah murid, sekecil apapun adalah kebaikkan, jangan ragu untuk melakukannya. Misalnya saya yakin bahwa semua murid harus mampu dan yakin memimpin diri sendiri maka di kelas-kelas saya buat setiap murid merasa berharga dan berkesempatan tampil/maju. Bagi murid yang masih ragu dan malu saya mengatakan bahwa butuh proses memang tetapi di kesempatan berikutnya pasti bisa. “Memaksa” sebisa mungkin saya hindari. Apa yang terbaik menurut kacamata saya, jangan-jangan trauma bagi siswa. Menghargai perbedaan dan saling berempati adalah kunci iklim pembelajaran positif di kelas.

Sedikit menyoal kehidupan sosial sabagai warga sekolah sebagai manusia saya menyadari sesuatu yang mulanya tidak saya perhatikan betul yaitu tentang fenomena guru senior dan junior di semua sekolah adalah warna sekolah yang indah. Ketika saya merasa beruntung karena bertemu guru-guru senior yang secara implisit memberikan saya bimbingan. Segala rasa ragu, berubah menjadi upaya bekerja keras. Mereka (guru senior) dengan prinsip mengembangkan diri saya sering mengajak saya berdialog tentang murid, pendidikan masa lalu, masa depan dan harapannya. Hal ini membantu saya untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, semangat mengembangkan diri. Kesibukan dalam pendidikan guru penggerak kadang tentu saja membuat pikiran saya kacau dan emosi tidak baik. Emosi negatif yang belum tersalurkan dengan baik sangat berbahaya. Pendidikan sosial emosional menjawab tantangan ini, teknik jeda atau STOP adalah bekal baik yang dapat saya aplikasikan langsung pada diri saya ketika menyadari bahwa kondisi perasaan saya sedang tidak baik. Mengambil nafas panjang, memejamkan mata dan mengapresiasi kepada diri sendiri selama ini telah bertahan dengan baik. Setelah jeda atau STOP biasanya pikiran saya mulai pulih. Kepada siswa hal ini juga saya praktikkan, ketika siswa terlihat mulai berperilaku negatif biasanya akan saya jeda dulu kegiatan pembelajaran. Berhenti dulu untuk memulai kembali itu baik.

Penejelasan tentang hal ini bisa disimak melalui https://www.youtube.com/watch?v=u3Y-7rDAiGc

Modul 3.1 melalui studi kasus di dalam LMS membuat saya menyadari betapa selama ini bujukan moral itu ada dan berdoa kekuatan diri melawan hal ini. Sederhananya adalah datang ke kelas tepat waktu dan mendampingi siswa belajar dengan sepenuh hati. Dilema etika dalam kehidupan sosial sebagai guru sangat berpengaruh. Kondisi kurang nyaman terjadi ketika dua kubu yang sebetulnya sama-sama benar sulit berkomunikasi dengan efektif sehingga terjadilah konflik. Nilai-nilai kebajikan universal yang seharusnya hadir dalam kasus dilema etika. Kejujuran mengakui kekeliruan, keluasan hati untuk saling menerima pendapat dengan musyawarah mufakat. Di lingkup kelas tentu saja banyak dilema etika yang terjadi; misal pembagian kelompok secara acak oleh guru itu tepat tetapi murid kehilangan usaha untuk membersamai teman-teman satu kelas adalah keluarga. Pembagian kelompok secara acak tersebut kadang membuat murid cenderung tergantung pada guru atau kurang mandiri. Pembagian murid sesuai sahabat terdekat juga menimbulkan masalah dalam satu kelas ada saja anak yang dikucilkan dengan berbagai alasan. Hal ini ada dan butuh usaha nyata dari guru untuk lebih peduli dan menyatukan para murid. Sekecil apapun proses memerdekakan murid adalah hal besar bagi murid. Misalnya ketika menyadari bahwa murid telah memiliki kodrat alam dan zamannya maka usaha guru adalah ‘menemani’ tumbuh kembang murid lewat mata pelajaran. Murid secara kontekstual diberi pengalaman belajar agar semakin tahu manfaat pendidikan dan pengajaran yang dilakukannya. Memfasilitasi murid dengan diferensiasi proses pembelajaran demi menyesuaikan gaya belajar siswa (visual, audiotori, kinestetik). Diferensiasi produk pembelajaran mulai saya lakukan bersama murid bahwa teks dapat diubah menjadi video, audio atau infografik sesuai kriteria penilaian tetapi sesuai pula dengan hal yang murid sukai atau kuasai. Murid seumur hidupnya akan mengingat bagaimana guru memperlakukannya. Materi pembelajaran akan berlalu jika tidak sesuai dengan kebutuhan kehidupan murid di masa depan. Akan menjadi guru yang bagaimana saya dan Anda dikenang kelas ? pilihannya ada pada bagaimana cara kita semua berpihak pada murid.



Dampak utama mempelajari konsep ini adalah saya lebih percaya diri dalam pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Sebelumnya saya tidak punya referensi yang jelas dan hanya mengandalkan intuisi. Saat ini saya akan menunjang setiap keputusan sesuai langkah-langkah dalam modul 3.1 ini. Pengalaman mewawancari dua kepala sekolah dalam pengambilan keputusan membuat saya sadar bahwa menjadi pemimpin memang tugas berat yang perlu kolaborasi dan komunikasi efektif semua pihak. Berikut adalah link kegiatan wawancara https://youtu.be/z1es8zx6_jg



Modul 3.1 melengkapi calon guru penggerak dengan cara jika menghadapi konflik. Modul ini sangat penting diketahui semua guru karena semua guru pada hakikatnya adalah pemimpin pembelajaran yang kadang bertemu dilema bujukan  moral dan etika. Semuanya berpusat pada nilai kebajikan universal misalnya tanggung jawab, toleransi, keberanian, kejujuran, dll. 

Ada 4 kategori dilema etika, yaitu:

  1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Terdapat 3 prinsip dilema etika, yaitu:

  1. Saya lakukan karena itu yang terbaik untuk kebanyakan orang (Berpikir Berbasis Hasil AKhir/End-Based Thinking).
  2. Ikuti prinsip atau aturan-aturan yang telah ditetapkan (Berpikir Berbasis Peraturan/Rule-Based Thinking)

  3. Memutuskan sesuatu dengan pemikiran apa yang anda harapkan orang lain lakukan terhadap anda (Berpikir Berbasis rasa peduli/Care-Based Thinking)

Dalam mengambil keputusan pada situasi dilema etika atau bujukan moral, maka dapat melakukan 9 langkah berikut.

  1. Mengenali nilai-nilai yang bertentangan
  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut

  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut

  4. Pengujian benar atau salah dengan uji legal, uji regulasi, uji intuisi/perasaan, uji publikasi, dan uji panutan.

  5. Pengujian paradigma benar lawan benar (gunakan 4 paradigma)

  6. Melakukan prinsip resolusi (gunakan 3 prinsip)

  7. Investigasi opsi trilema (pilihan keputusan yang lain)

  8. Buat keputusan

  9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan

Pengetahuan tersebut semoga bisa dijadikan acuan saat guru menghadapi dilema etika di kelas dan lingkungan sekolah. Sekolah adalah institusi moral yang perlu terus menjadikan setiap murid mendapatkan pengalaman berharga dan berbahagia dalam belajar dan bertumbuh menuju nilai-nilai kebajikan. Bagaimana menurut Anda? Silakan komentari tulisan ini, dengan umpan balik dari Bapak/Ibu guru hebat, saya ingin terus belajar tergerak, bergerak, dan menggerakan.

Ditulis oleh Wulan Widari Endah, S.Pd (Guru SMPN 3 Cilegon)

Calon guru penggerak angkatan 06 Provinsi Banten




6 comments:

  1. Semangat... guru penggerak...
    LANJUT..

    ReplyDelete
  2. Pengambilan keputusan yang sesuai nilai kebajikan sangat penting. Dilema etika atau bujukan moral seringkali menjadi hambatan dalam mengambil keputusan. Semoga materi ini memberikan pengetahuan dan wawasan positif.

    ReplyDelete
  3. Terbaik Bu duta, sehat selalu dan terus menginspirasi untuk dunia pendidikan

    ReplyDelete
  4. Luar biasa bu Duta Mantap

    ReplyDelete
  5. Luar biasa bu Duta Mantap

    ReplyDelete